apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi bnsp bidang keuangan?

Apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi bnsp bidang keuangan? Pahami posisi yang wajib, dasar OJK, dan risiko kepatuhan.

apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi bnsp bidang keuangan?
Oleh Redaksi Lspkonstruksi.com Konsultan Sistem Manajemen & Sertifikasi ISO 05 Jun 2024 11 menit baca

Ingin konsultasi terkait topik ini? Tim Lspkonstruksi.com siap membantu kebutuhan sertifikasi, pelatihan, atau perizinan perusahaan Anda.

Konsultasi Gratis

Pertanyaan apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi bnsp bidang keuangan tidak dapat dijawab dengan "wajib" atau "tidak wajib" untuk seluruh pegawai. Kewajiban sertifikasi bergantung pada fungsi, jenjang jabatan, jenis kompetensi, serta ketentuan sektoral yang berlaku bagi bank.

Perbedaan ini penting karena sertifikasi kompetensi BNSP tidak sama dengan satu jenis sertifikasi yang otomatis diwajibkan kepada seluruh staf bank. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki ketentuan khusus untuk kompetensi tertentu, terutama pada fungsi yang berkaitan dengan manajemen risiko. Sementara itu, sertifikasi lain dapat digunakan sebagai pengakuan kompetensi kerja sesuai kebutuhan jabatan dan skema yang tersedia.

Karena itu, perusahaan maupun calon tenaga kerja perlu melihat hubungan antara jabatan, standar kompetensi, dan ketentuan OJK sebelum menyimpulkan bahwa setiap staf bank harus mempunyai sertifikat BNSP. Data OJK sendiri menunjukkan adanya beragam sertifikasi pada sektor perbankan, antara lain manajemen risiko, kepatuhan, kredit, tresuri, general banking, serta funding dan services. Data sertifikasi OJK memperlihatkan bahwa kebutuhan kompetensi perbankan memang terbagi berdasarkan bidang kerja.

Baca Juga: Risiko Perusahaan Riset Jika Peneliti Tak Bersertifikat

Apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi bnsp bidang keuangan?

Jawaban yang paling tepat adalah tidak semua staf bank secara otomatis diwajibkan memiliki sertifikat kompetensi BNSP bidang keuangan yang sama. Kewajiban dapat muncul karena ketentuan regulator, kebutuhan jabatan tertentu, atau kebijakan pengembangan sumber daya manusia bank.

Dalam sektor perbankan, terdapat perbedaan antara sertifikasi kompetensi kerja secara umum dan sertifikasi yang diwajibkan untuk fungsi tertentu oleh regulator. OJK melalui ketentuan mengenai pengembangan kualitas sumber daya manusia bank umum mengatur pengembangan kompetensi SDM melalui sertifikasi kompetensi kerja di sektor perbankan, sertifikasi kompetensi lainnya, dan bentuk peningkatan kompetensi lain yang sesuai.

Perbedaan tersebut membuat pertanyaan tentang kewajiban sertifikasi harus dibaca berdasarkan jabatan. Seorang petugas layanan nasabah tidak otomatis memiliki tuntutan sertifikasi yang sama dengan pejabat yang menjalankan fungsi manajemen risiko. Semakin besar kewenangan dan risiko yang melekat pada suatu jabatan, semakin besar pula kebutuhan pembuktian kompetensinya.

Kerangka kompetensi juga terus diperbarui. Contohnya, Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 271 Tahun 2024 menetapkan SKKNI kategori aktivitas keuangan dan asuransi untuk bidang manajemen risiko perbankan. Standar tersebut menjadi salah satu rujukan kompetensi yang dapat digunakan dalam pengembangan dan pengakuan kemampuan tenaga kerja perbankan.

Artinya, pertanyaan "apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi BNSP bidang keuangan" sebaiknya tidak berhenti pada status sertifikat. Yang lebih menentukan adalah apakah kompetensi tersebut memang dipersyaratkan untuk jabatan yang bersangkutan dan apakah skema sertifikasinya sesuai dengan fungsi pekerjaan.

Baca Juga: Perbedaan Lembaga Sertifikasi Profesi Berbeda Dengan Lembaga Pelatihan Kerja

Perbedaan sertifikasi BNSP dan sertifikasi yang diwajibkan untuk fungsi perbankan

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap semua sertifikat kompetensi perbankan memiliki dasar kewajiban yang sama. Padahal, BNSP berperan dalam sistem sertifikasi kompetensi kerja melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sedangkan OJK menetapkan ketentuan sektoral tertentu untuk industri jasa keuangan.

Lembaga Sertifikasi Profesi adalah lembaga yang menyelenggarakan sertifikasi kompetensi berdasarkan skema tertentu. Untuk sertifikasi yang berada dalam sistem BNSP, masyarakat dapat memeriksa keberadaan dan status LSP melalui direktori LSP BNSP. Salah satu contoh LSP yang tercatat adalah Lembaga Sertifikasi Profesional Perbankan, yang memiliki berbagai skema sertifikasi di bidang perbankan.

Aspek Sertifikasi kompetensi BNSP Sertifikasi sektoral perbankan
Penyelenggara LSP sesuai lisensi dan skema yang berlaku LSP atau penyelenggara yang memenuhi ketentuan sektor perbankan
Dasar kompetensi Skema sertifikasi dan standar kompetensi yang relevan Ketentuan OJK serta standar kompetensi sektor perbankan
Tujuan Memberikan pengakuan atas kompetensi kerja Memastikan kompetensi tertentu sesuai kebutuhan industri dan pengawasan
Cakupan Bergantung pada skema yang tersedia Bergantung pada fungsi, jabatan, dan ketentuan sektor perbankan
Kewajiban Tidak otomatis wajib untuk seluruh pegawai bank Dapat menjadi kewajiban untuk fungsi atau jabatan tertentu

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa memiliki sertifikat BNSP tidak selalu berarti seseorang telah memenuhi seluruh persyaratan kompetensi untuk suatu jabatan di bank. Sebaliknya, tidak memiliki sertifikat BNSP tertentu juga tidak otomatis berarti seorang staf melanggar ketentuan, apabila sertifikasi tersebut memang tidak diwajibkan untuk fungsi yang dijalankannya.

Dengan demikian, pemeriksaan harus diarahkan pada kesesuaian skema. Sertifikat harus relevan dengan pekerjaan, bukan sekadar memiliki label "keuangan" atau "perbankan".

Baca Juga: Apakah Teknisi Bengkel Wajib Memiliki Sertifikat Kompetensi

Kapan sertifikasi menjadi kewajiban bagi staf bank?

Kebutuhan sertifikasi menjadi lebih kuat ketika staf menjalankan fungsi yang memiliki dampak langsung terhadap pengelolaan risiko, tata kelola, kepatuhan, atau keputusan penting bank. Salah satu contoh paling jelas adalah sertifikasi manajemen risiko bagi sumber daya manusia bank umum.

Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28/SEOJK.03/2022 mengatur sertifikasi manajemen risiko bagi sumber daya manusia bank umum. Ketentuan tersebut menempatkan sertifikasi manajemen risiko sebagai bagian dari penguatan penerapan manajemen risiko dan menetapkan bahwa sertifikasi diselenggarakan oleh LSP sektor perbankan yang terdaftar di OJK.

Ketentuan tersebut juga menunjukkan bahwa masa berlaku sertifikat manajemen risiko adalah tiga tahun sejak tanggal penerbitan dan dapat diperpanjang. Dengan demikian, sertifikasi untuk fungsi tertentu bukan sekadar dokumen yang diperoleh sekali lalu diabaikan. Pemeliharaan kompetensi menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya manusia bank.

Fungsi pekerjaan Kebutuhan sertifikasi Pertimbangan utama
Manajemen risiko Sangat tinggi Ketentuan OJK, jenjang jabatan, dan tingkat tanggung jawab
Kepatuhan Tinggi Kebutuhan kompetensi dan ketentuan sektor perbankan
Kredit Sesuai fungsi dan skema Jenis pekerjaan dan kewenangan pengelolaan kredit
Tresuri Sesuai fungsi dan ketentuan Risiko transaksi dan kompetensi khusus
Layanan nasabah dan kasir Bergantung kebutuhan jabatan Kebijakan bank dan skema kompetensi yang relevan
Administrasi pendukung Bergantung fungsi Tugas, tanggung jawab, dan kebijakan organisasi

Hal yang sering luput adalah bahwa jabatan dengan nama yang sama belum tentu memiliki tuntutan kompetensi yang identik. Bank dengan ukuran, model bisnis, dan tingkat kompleksitas berbeda dapat mempunyai pembagian tugas yang berbeda. Karena itu, penentuan kebutuhan sertifikasi harus melihat uraian jabatan dan kewenangan aktual.

Bagi posisi operasional tertentu, pembahasan mengenai kompetensi dapat dikaitkan dengan skema jabatan seperti kasir. Informasi mengenai ruang lingkup pekerjaan tersebut dapat dilihat dalam artikel skema sertifikasi kasir pada bidang jasa keuangan untuk memahami bahwa sertifikasi kompetensi sebaiknya disesuaikan dengan fungsi pekerjaan.

Baca Juga: Wajib Tenaga Bersertifikat BNSP bagi Pengelola Limbah?

Apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi BNSP bidang keuangan berdasarkan jabatan?

Jika pertanyaan tersebut digunakan untuk menentukan kebijakan sumber daya manusia, pendekatan berdasarkan jabatan lebih akurat daripada menerapkan satu sertifikat kepada semua pegawai. Bank perlu membedakan posisi yang menjalankan fungsi pengambilan keputusan, fungsi pengendalian, fungsi transaksi, dan fungsi administratif.

Untuk jabatan manajemen risiko, misalnya, standar kompetensi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami produk keuangan. Tenaga kerja harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan proses pengelolaan risiko, mulai dari pemahaman risiko sampai penerapan pengendalian sesuai lingkup tanggung jawabnya.

Untuk posisi layanan nasabah, kebutuhan kompetensinya berbeda. Fokusnya dapat mencakup pelayanan, transaksi, perlindungan nasabah, komunikasi, serta kepatuhan terhadap prosedur internal. Sertifikasi dapat menjadi bukti kompetensi yang bernilai, tetapi kewajibannya tidak dapat disamaratakan dengan fungsi yang secara khusus diatur oleh OJK.

Untuk fungsi pendukung, kebutuhan sertifikasi bahkan dapat bergantung pada jenis tugas yang diberikan. Seorang pegawai administrasi yang tidak mengambil keputusan terkait risiko perbankan tentu memiliki profil kompetensi yang berbeda dari pejabat yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pengembangan kompetensi berbasis fungsi. Bank tidak perlu mengukur semua pegawai menggunakan ukuran yang sama. Yang lebih penting adalah memastikan setiap posisi memiliki kompetensi yang sesuai dengan risiko dan tanggung jawabnya.

Baca Juga: Kesalahan Umum Operator Produksi Lama vs Skema Uji Baru

Risiko jika kebutuhan sertifikasi staf bank tidak dipetakan dengan benar

Kesalahan dalam pemetaan sertifikasi dapat menghasilkan dua kondisi yang sama-sama tidak ideal. Pertama, bank dapat mengabaikan sertifikasi yang sebenarnya diperlukan untuk fungsi tertentu. Kedua, bank dapat mewajibkan terlalu banyak sertifikasi yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan.

Kondisi pertama berkaitan dengan risiko kepatuhan dan risiko operasional. Jika fungsi yang diwajibkan memiliki kompetensi tertentu tidak dipenuhi, bank dapat menghadapi persoalan dalam memenuhi ketentuan pengawasan. Pada fungsi manajemen risiko, kekurangan kompetensi juga dapat memengaruhi kualitas proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko.

Kondisi kedua sering dianggap lebih ringan, padahal memiliki dampak tersembunyi. Sertifikasi yang tidak relevan dapat menghabiskan waktu pengembangan pegawai tanpa meningkatkan kemampuan yang benar-benar dibutuhkan. Akibatnya, sumber daya pengembangan kompetensi tidak diarahkan kepada fungsi yang memiliki risiko paling tinggi.

Karena itu, pertanyaan apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi BNSP bidang keuangan seharusnya diikuti dengan pertanyaan yang lebih tepat: kompetensi apa yang diwajibkan untuk jabatan tersebut, siapa regulatornya, dan skema sertifikasi mana yang sesuai?

  • Periksa fungsi dan tanggung jawab aktual dari jabatan.
  • Bedakan kewajiban berdasarkan ketentuan OJK dengan sertifikasi kompetensi yang bersifat pengembangan profesional.
  • Pastikan standar kompetensi yang digunakan sesuai dengan bidang pekerjaan.
  • Perhatikan masa berlaku dan ketentuan pemeliharaan sertifikasi apabila sertifikasi tersebut diwajibkan.
  • Jangan menjadikan keberadaan sertifikat sebagai satu-satunya ukuran kompetensi pegawai.
Baca Juga: Risiko Usaha Pergudangan Tanpa Tenaga Kerja Bersertifikat

Bagaimana bank menentukan sertifikasi yang relevan untuk tenaga kerja?

Penentuan sertifikasi sebaiknya dimulai dari kebutuhan jabatan, bukan dari daftar sertifikat yang tersedia. Bank dapat memetakan fungsi yang mempunyai risiko tinggi, kemudian mencocokkannya dengan ketentuan regulator dan standar kompetensi yang berlaku.

Dalam konteks perbankan, SKKNI menjadi salah satu rujukan penting untuk menggambarkan kemampuan kerja yang dibutuhkan. Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 271 Tahun 2024, misalnya, menetapkan SKKNI bidang manajemen risiko perbankan. Standar tersebut dapat menjadi acuan dalam melihat kompetensi yang diperlukan pada bidang tersebut.

Bank juga perlu membedakan sertifikasi untuk kebutuhan kepatuhan dengan sertifikasi untuk pengembangan karier. Keduanya dapat sama-sama bermanfaat, tetapi konsekuensi hukumnya tidak selalu sama. Sertifikasi yang menjadi persyaratan regulator memiliki kedudukan berbeda dari sertifikasi yang dipilih perusahaan sebagai bagian dari kebijakan pengembangan pegawai.

Dalam praktik, daftar kebutuhan dapat dibuat berdasarkan beberapa unsur berikut:

  • nama dan jenjang jabatan;
  • fungsi utama dan kewenangan;
  • tingkat risiko pekerjaan;
  • ketentuan OJK yang berlaku;
  • standar kompetensi yang relevan;
  • skema sertifikasi yang sesuai;
  • masa berlaku sertifikat dan ketentuan pemeliharaannya.

Pendekatan ini membuat kebijakan sertifikasi lebih terarah. Pegawai yang membutuhkan sertifikasi karena ketentuan jabatan dapat diprioritaskan, sementara pegawai lain dapat memperoleh pelatihan atau sertifikasi sesuai kebutuhan pengembangan kompetensinya.

Untuk melihat contoh skema sertifikasi yang tersedia pada sistem BNSP, direktori resmi BNSP menunjukkan bahwa terdapat LSP dengan skema khusus bidang perbankan, termasuk manajemen risiko perbankan dan okupasi general banking. Profil LSP Perbankan pada BNSP dapat menjadi rujukan awal untuk mengenali jenis skema yang tersedia, tanpa menganggap semua skema tersebut otomatis wajib bagi setiap staf bank.

Baca Juga: Penolakan Sertifikasi Teknisi Kelistrikan bagi Instalatir

Masa berlaku sertifikasi dan pemeliharaan kompetensi staf bank

Pertanyaan tentang kewajiban sertifikasi juga perlu memperhatikan masa berlaku. Sertifikat kompetensi tidak selalu berlaku tanpa batas. Masa berlaku bergantung pada skema dan ketentuan lembaga atau regulator yang terkait.

Untuk sertifikasi manajemen risiko bank umum, OJK menetapkan masa berlaku tiga tahun dan mekanisme perpanjangan. Ketentuan ini menunjukkan bahwa kompetensi untuk fungsi berisiko perlu dipelihara agar tetap sesuai dengan perkembangan industri dan ketentuan yang berlaku.

Implikasinya bagi bank cukup jelas. Pengelolaan sertifikasi tidak seharusnya berhenti setelah pegawai memperoleh sertifikat. Bagian sumber daya manusia perlu memiliki pencatatan yang memadai mengenai sertifikat, masa berlaku, kebutuhan pemeliharaan, serta kesesuaian sertifikasi dengan jabatan yang sedang dijalankan.

Hal ini juga menjawab salah satu kesalahpahaman umum mengenai sertifikasi BNSP. Sertifikat kompetensi bukan pengganti pengalaman kerja dan bukan pula jaminan bahwa seseorang selamanya kompeten untuk semua pekerjaan. Sertifikat menunjukkan pengakuan kompetensi pada skema tertentu dalam kondisi dan periode yang ditetapkan.

Baca Juga: Sertifikasi ESDM vs BNSP Pertambangan: Kenali Bedanya

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah semua staf bank wajib memiliki sertifikasi BNSP?

Tidak. Kewajiban sertifikasi ditentukan berdasarkan fungsi, jabatan, ketentuan regulator, dan kebutuhan organisasi. Sertifikasi tertentu memang diwajibkan untuk fungsi tertentu, tetapi tidak berarti seluruh pegawai bank harus memiliki sertifikat yang sama.

Apakah sertifikat BNSP sama dengan sertifikasi manajemen risiko bank?

Tidak selalu. Sertifikasi kompetensi BNSP dan sertifikasi yang diwajibkan dalam ketentuan sektor perbankan dapat memiliki dasar, skema, dan tujuan yang berbeda. Untuk fungsi tertentu, bank harus mengikuti ketentuan OJK yang berlaku.

Apakah staf layanan nasabah harus memiliki sertifikasi kompetensi?

Kebutuhannya bergantung pada jabatan, kebijakan bank, dan skema kompetensi yang digunakan. Tidak tepat menyatakan bahwa seluruh staf layanan nasabah secara nasional wajib memiliki satu sertifikat BNSP tertentu tanpa melihat ketentuan yang berlaku.

Berapa lama sertifikasi manajemen risiko perbankan berlaku?

Berdasarkan Surat Edaran OJK Nomor 28/SEOJK.03/2022, Sertifikat Manajemen Risiko berlaku tiga tahun sejak tanggal penerbitan dan dapat diperpanjang. Ketentuan masa berlaku dapat berbeda untuk skema sertifikasi lainnya.

Baca Juga: Cara Mendapatkan SKK Konstruksi Lengkap dan Resmi

Kesimpulan

Jawaban atas pertanyaan apakah staf bank wajib memiliki sertifikasi kompetensi BNSP bidang keuangan adalah tidak secara seragam untuk seluruh pegawai. Kewajiban harus dilihat berdasarkan fungsi, jenjang jabatan, risiko pekerjaan, ketentuan OJK, standar kompetensi, serta skema sertifikasi yang relevan.

Fungsi seperti manajemen risiko memiliki ketentuan yang lebih spesifik dan kuat karena berkaitan langsung dengan pengelolaan risiko bank. Sementara itu, sertifikasi pada fungsi operasional dan pendukung perlu dinilai berdasarkan kebutuhan jabatan dan kebijakan organisasi. Untuk memahami kerangka sertifikasi secara lebih luas, Anda dapat membaca penjelasan mengenai sertifikat kompetensi BNSP sebagai dasar sebelum menilai kebutuhan sertifikasi pada posisi tertentu.

Bagi bank, pendekatan yang paling tepat adalah memetakan kompetensi berdasarkan jabatan, mencocokkannya dengan ketentuan regulator, lalu memastikan sertifikasi yang dipilih benar-benar relevan dengan tanggung jawab tenaga kerja. Dengan cara tersebut, sertifikasi berfungsi sebagai bagian dari penguatan kompetensi dan kepatuhan, bukan sekadar kelengkapan administratif.

Baca Juga: Ujian LSP Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Proses Uji Kompetensi

Sumber & referensi

Redaksi Lspkonstruksi.com
Artikel ini ditulis oleh Redaksi Lspkonstruksi.com

Redaksi Lspkonstruksi.com adalah konsultan sistem manajemen berpengalaman yang mendampingi organisasi dalam membangun, mengimplementasikan, dan mempertahankan sertifikasi ISO — mencakup ISO 9001 (Mutu), ISO 14001 (Lingkungan), ISO 45001 (K3), hingga ISO 27001 (Keamanan Informasi).

Artikel ini bersifat edukasi. Verifikasi syarat dan ketentuan terbaru pada instansi atau lembaga terkait sebelum mengambil keputusan.